Senin, 21 Januari 2013


PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA JAWA KRAMA ALUS MENGGUNAKAN MEDIA KOMIK DENGAN TOKOH WAYANG PADA SISWA KELAS 5 SDN KAWEDANAN 2 MAGETAN

 


Kusnul Pujianto
09141120
PGSD/7C


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2012



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat agar sesuai dengan cita-cita pendidikan. (Achmad munib, 2004:34).
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut seorang guru harus mampu menguasai materi. Selain itu dapat menerapkan metode-metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan dan keinginan para siswanya. Sehingga tujuan yang ingin dicapai berhasil dan bisa mengaktifkan siswa.
Hasil wawancara peneliti dengan guru bahasa jawa kelas V SDN Kawedanan 2  ditemukan fakta bahwa siswa masih menemui kesulitan belajar dalam berbahasa jawa krama alus. Hal ini terlihat dari hasil tes akhir pembelajaran menunjukkan bahwa: hanya ada 10 siswa (21%) yang kemampuan berbahasa jawa krama alusnya nilai antara (75-100); terdapat 30 siswa (63%) mencapai nilai 50-75 dan 7 siswa (16%) memperoleh nilai dibawah 50. Padahal nilai ketuntasan minimal SDN Kawedanan 2 adalah 75.
Dalam pembelajaran sehari-hari, guru sudah menjelaskan tata cara berbahasa jawa krama alus yang baik dan benar selain itu guru juga memberikan contoh-contoh dalam percakapan sehari-hari. Akan tetapi kemampuan siswanya tetap saja belum dapat meningkat.
Akar penyebab rendahnya penguasaan berbahasa jawa krama alus yang baik dan benar dikarenakan pembelajarannya masih monoton tanpa media yang inovatif. Secara teoritik, siswa SD lebih suka mengamati gambar daripada materi yang berupa tulisan saja.
Oleh karena itu,  judul yang diambil oleh peneliti adalah Peningkatan Kemampuan Berbahasa Jawa Krama Alus Menggunakan Media Komik dengan Tokoh Wayang pada Siswa Kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan”.
B.     Identifikasi Masalah
1.      Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam proses belajar mengajar, karena guru masih monoton dalam mengajar, kurang menggunakan media pembelajaran yang inovatif .
2.      Kurangnya minat siswa dalam membaca buku paket bahasa jawa, sehingga hasil belajar kurang maksimal.
3.      Tingkat penguasaan berbahasa jawa krama alus yang baik dan benar masih kurang sehingga mempengaruhi hasil belajar
4.      Untuk peningkatan kemampuan berbahasa jawa krama alus di SDN Kawedanan 2 Magetan belum menggunakan media pembeljaran komik.


C.    Rumusan Masalah dan Pemecahannya
1.      Rumusan masalah
Penelitian ini dititik beratkan pada pemecahan, masalah – masalah yang dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apakah media komik dapat meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus siswa kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan?
2.      Bagaimana penggunaan media komik dalam meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan?
2.      Pemecahan Masalah
Tindakan yang sesuai dengan pemecahan masalah :
1.    Guru mempersiapkan media komik sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.    Guru memberikan media komik kepada setiap siswa
3.    Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/ menganalisa
4.    Siswa mengerjakan soal-soal yang terdapat pada komik
5.    Mempraktekkan percakapan menggunakan bahasa jawa krama alus secara kelompok
6.    Pemberian komentar dan pelurusan pemahaman
7.    Kesimpulan.
Indikator Keberhasilan        :
ASPEK
CARA MENGUKUR
Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan
Diamati saat pembelajaran berlangsung, lembar pengamatan, oleh peneliti. Dihitung dari jumlah siswa bertanya per jumlah keseluruhan siswa
Ketepatan waktu melakukan kegiatan eksplorasi (menganalisis gambar) dan menyelesaikan soal
Diamati saat pembelajaran, lembar pengamatan oleh peneliti.
Ketepatan pengucapan dalam mempraktekkan percakapan krama alus dan kerjasama kelompok
Diamati pada saat diskusi dalam kelompok dan praktek
Ketuntasan hasil belajar
Dihitung dari nilai rata-rata diskusi dan tes. Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 70 dinyatakan tuntas.


D.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin penulis capai dalam penelitian ini adalah :
1.    Mendeskripsikan penerapan media komik untuk meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus siswa kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan
2.    Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa jawa krama alus siswa kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan
E.     Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat Teoritik: memberikan sumbangan pengetahuan pada khasanah pengetahuan khususnya dalam bidang pembelajaran Bahasa Jawa di SD,
Manfaat Praktis:
Ø   siswa : siswa akan lebih aktif dan memahami sehingga kemampuannya berbahasa jawa krama alus meningkat.
Ø   guru: dimungkinkan dapat diterapkan di sekolah yang mempunyai karakteristik sama
Ø   peneliti lain: dapat menjadi inspirasi yang ingin mendalami pembelajaran bahasa jawa krama alus.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Media Komik
1.      Pengertian media pembelajaran
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
2.      Media pembelajaran komik
Komik adalah sebuah media yang menyampaikan cerita dengan visualisasi atau ilustrasi gambar, dengan kata lain komik adalah cerita bergambar, dimana gambar berfungsi untuk pendeskripsian cerita agar si pembaca mudah memahami cerita yang disampaikan oleh si pengarang.
Biasanya komik sangat digemari oleh orang-orang yang mempunyai tipe belajar visual karena dalam komik suatu cerita disampaikan dengan dominasi gambar yang sangat menonjol. Kadang komik bersifat menghibur sehingga kalangan penggemar komik adalah anak-anak dan remaja.
Komik yang sering kita temukan adalah komik-komik yang bercerita superhero, cerita kartun dan legenda. Akan tetapi komik pun dapat dirancang dengan gagasan yang berisi materi atau nilai-nilai yang positif yaitu berisi tentang nilai-nliai sosial, budaya, agama dan ekonomi.
Komik mempunyai unsur dasar visual yaitu komik dapat dipakai sebagai alat penyampai pesan yang berisi arti dan makna sehingga terjadi komunikasi visual antara pesan yang disampaikan oleh komik tersebut dengan si pembaca melalui daya imajinasinya.
3.      Kelebihan komik sebagai media pembelajaran
Metode  mengajar seorang pendidik dalam menyampaikan pesan pembelajaran sangatlah terbatas dan sangat monoton. Hanya sebatas ceramah, tanya jawab, diskusi dan simulasi sehingga pengalaman belajar yang didapatkan peserta didik sangat tidak variatif dan merasa belum memahami pesan yang disampaikan oleh pendidik.
a.       Bukan hanya itu, komik pun dapat menarik semangat siswa untuk belajar dan mengajari siswa untuk menerjamahkan cerita ke dalam gambar bahkan seolah-seolah siswa dihadapkan pada konteks yang nyata sehingga muncul efek yang membekas pada siswa dan dapat mengingat sesuatu lebih lama.
b.      Materi yang terdapat di dalam komik dapat dijelaskan secara sungguh-sungguh, yang artinya bahwa materi yang berbentuk gambar dapat menjelaskan keseluruhan cerita atau materi yang dibarengi oleh ilustrasi gambar untuk  mempermudah siswa dengan mengetahui bentuk atau contoh kongkret apa maksud dari materi tersebut.
c.       Hutchinson (1949) menemukan bahwa 74% guru yang disurvei menganggap bahwa komik "membantu memotivasi", sedangkan 79% mengatakan komik "meningkatkan partisipasi individu" . Satu guru bahkan mengatakan bahwa komik membuat pembelajaran menjadi "pembelajaran yang sangat mudah" (Hutchinson, 1949). DC Comics, Thorndike, dan Downes juga menemukan bahwa komik juga mampu memotivasi siswa ketika mereka memperkenalkan buku latihan bahasa Superman ke kelasnya. Mereka menemukan bahwa siswa memiliki “ketertarikan yang tak biasa” dan, sebagaimana ditulis’ “mampu membuat siswa menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan dalam satu minggu menjadi satu hari saja” (Sones, 1944).
d.      Sones’ (1944) yang berkesimpulan bahwa kualitas gambar komik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran: Sones membagi empat ratus siswa kelas enam sampai kelas Sembilan kedalam dua kelompok. Masing – masing kelompok seimbang dalam pembagian kelas dan kecakapannya. Kelompok pertama disuguhi pembelajaran cerita dengan menggunakan komik dan yang kedua hanya menggunakan teks saja. Setelah itu, mereka dites untuk mengetahui isi dari pembelajaran cerita itu. Setelah seminggu, prosesnya diubah, kelompok pertama disuguhi teks saja sedang yang kedua diberikan komik. Kemudian kedua grup dites lagi. 
e.       Akhirnya, Sones (1944) berkesimpulan bahwa "pengaruh gambar terlihat dalam hasil tes". Tes pertama menunujukkan bahwa kelompok pertama mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok kedua. Di tes kedua kelompok kedua mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok pertama.  
f.       Kelebihan komik masih banyak lagi antara lain Anda tentu tahu poster alfabet yang dilengkapi dengan gambar-gambar. Itu merupakan salah satu contoh pemanfaatan gambar untuk memperkenalkan suatu konsep tertentu, dalam hal ini alfabet. Masih ingat komik Doraemon? Karakter karya Fujiko F. Fujio ini termasuk paling dicintai anak-anak. Beberapa tahun yang lalu, komik Doraemon edisi belajar berhitung juga diterbitkan. Komik-komik seperti ini tentu sangat bermanfaat dan menolong karena menghadirkan nuansa belajar yang menyenangkan bersama tokoh kesayangan.
g.      Komik yang memperkenalkan lingkungan dan alam sekitar juga sangat bermanfaat bagi anak-anak. Anda tidak mungkin membawa anak-anak ke masa dinosaurus untuk memperkenalkan mereka kepada Tyranosaurus, misalnya. Anak-anak pun bisa diperkenalkan pada berbagai jenis tumbuhan dan hewan melalui komik. Komik pun dapat di gunakan sebagai sarana memperkenalkan firman Tuhan, Dulu ada enam seri komik Alkitab Bergambar untuk Semua Umur, terbitan Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Buah karya Iva Hoth dan Andre Le Blanc ini merupakan salah satu komik yang bermanfaat untuk memperkenalkan isi Alkitab dan tokoh-tokohnya kepada anak-anak.
h.      Komik juga membantu untuk membangkitkan minat baca anak-anak. Jaya Suprana (dalam Sofwan 2007) mengaku kalau minat bacanya tumbuh akibat membaca komik Mahabharata semasa kecilnya.Sejumlah komik menghadirkan nilai-nilai moral yang penting dikenal oleh siapa saja. Sebut saja nilai persahabatan, kerja keras, kebersamaan, kegigihan dan semangat pantang menyerah. Perhatikanlah komik-komik Jepang -- saya sengaja mengangkat komik Jepang karena komik inilah yang saat ini merajai pasar -- banyak mengangkat nilai-nilai tersebut.
i.        Komik olah raga umumnya mengajarkan nilai kerja keras, kegigihan, dan semangat pantang menyerah. Pesan umum yang disampaikan biasanya "semakin gigih kamu berusaha, semakin dekat pula dirimu pada keberhasilan". Prinsip alkitabiah seperti "kasihilah musuhmu" juga bisa ditemukan. Nilai-nilai ini bisa dilihat dari komik, seperti "Shoot!", "Kungfu Boy", "Harlem Beat", dan lain-lain.
B.     Pembelajaran Bahasa Jawa
Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang berfungsi sebagai lambang kebanggan daerah, lambang identitas daerah dan alat perhubungan keluarga dan masyarakat daerah. Pembelajaran bahasa jawa di sekolah dasar merupakan sarana pelestarian bahasa jawa. Fungsi Bahasa Jawa yang hakiki adalah alat perhubungan keluarga dan masyarakat daerah, sehingga Bahasa Jawa dominan digunakan dalam wujud bahasa lisan. Dari kenyataan ini, tujuan pembelajaran Bahasa Jawa di SD diusulkan mengutamakan keterampilan berbicara.
Bentuk Krama
Dengan pengutamaan keterampilan berbicara, pembelajaran bahasa jawa harus mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam berbhasa jawa, baik itu dalam bentuk bahasa ngoko ataupun bentuk krama.
Bentuk krama digunakan untuk menghormati, “mengajeni” mitra bicara. Secara verbal rasa hormat itu diekspresikan dengan bahasa yang halus, bentuk krama. Bagi orang Jawa, hal itu merupakan tradisi. Tidak bisa pembelajaran Bahasa Jawa diajarkan tanapa disertai bentuk krama.
Kehalusan budi bahasa merupakan nilai yang dijunjung tinggi orang Jawa, Orang Jawa tempat pertimbunan kekayaan yang berupa perasaan halus. Kata-kata pada tingkat tutur krama bukan sekadar paduan bentuk dan makna, tetapi juga terkandung rasa hormat pada mitra bicara. Bentuk krama dapat digunakan sebagai alat memperhalus budi pekerti siswa. Inilah pentingnya bentuk krama dalam pembelajaran Bahasa Jawa bagi siswa SD.
Pembelajaran bahasa jawa di sekolah dasar bertujuan untuk dapat menghasilkan siswa yang mampu berbicara dalam Bahasa Jawa ngoko dan krama dengan baik.
C.    Standar Isi berbicara krama alus
Standar Isi berbicara krama alus harus dikuasai dan di capai peserta didik dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan. Berisi tata cara berkomunikasi secara lisan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa harus mampu menguasai tata cara berbicara kepada orang yang lebih tua, lebih muda dan teman sebaya.
Dalam kompetensi ini, materi yang perlu dikuasai guru adalah sebagai berikut:
a.         Bahasa jawa ngoko
b.         Bahasa jawa krama alus

D.    Karakteristik siswa kelas V SD
1) Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2) Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4) Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.
5) Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
6) Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
7) Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Selain itu siswa kelas V SD juga memiliki karakteristik:
Karakteristik sosial-emosional
1) Tidak stabil
2) Mulai timbul rasa takjub
3) Perempuan menaruh minat pada laki-laki
4) Anak dewasa dapat mempengaruhi
5) Biasa berontak
6) Berapresiasi terhadap penghargaan
7) Bersifat kritis
8) Laki-laki tidak begitu memperhatikan anak perempuan
9) Perasaan bangga berkembang
10) Ingin penghargaan dari kelompoknya
11) Mudah memperoleh teman
12) Suka bergabung dalam jenis kelamin yang sejenis
Perkembangan anak usia sekolah dasar kelas V
1.      Perkembangan Fisik 
Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada anak usia kelas 5 SD baik laki-laki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg.
Pada  akhir  kelas  lima,  umumnya  anak  perempuan  lebih  tinggi,  lebih  berat  dan  lebih  kuat  daripada  anak  laki-laki.  Anak  laki-laki  memulai  lonjakan  pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun. 
2. Perkembangan Kognitif 
Hal  tersebut  mencakup  perubahan  –  perubahan  dalam  perkembangan  pola  pikir. Tahap  perkembangan  kognitif  individu  menurut  Piaget  melalui empat stadium:  
a. Sensorimotorik  (0-2  tahun),  bayi lahir  dengan  sejumlah  refleks  bawaan  medorong mengeksplorasi dunianya. 
b.Pra-operasional (2-7  tahun),  anak  belajar menggunakan  dan  merepresentasikan  objek  dengan  gambaran  dan  kata-kata.  Tahap pemikirannya  yang  lebih simbolis tetapi  tidak  melibatkan  pemikiran  operasiaonal  dan  lebih  bersifat  egosentris  dan intuitif ketimbang logis 
c. Operational  Kongkrit  (7-11),  penggunaan  logika yang  memadai.  Tahap  ini  telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit. 
d. Operasional  Formal  (12-15  tahun).   kemampuan  untuk  berpikir  secara  abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia 

2.      Perkembangan Psikososial  
Hal  tersebut  berkaitan  dengan  perkembangan  dan  perubahan  emosi  individu.  J.  Havighurst  mengemukakan  bahwa  setiap perkembangan individu  harus  sejalan  dengan  perkembangan  aspek  lain  seperti  di  antaranya  adalah  aspek  psikis, moral dan sosial.
Daya  konsentrasi  anak  tumbuh  pada  kelas  kelas  tinggi  SD.  Mereka  dapat  meluangkan  lebih  banyak  waktu  untuk  tugas  tugas  pilihan  mereka, dan sering kali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya  tindakan  mandiri,  kerjasama  dengan  kelompok  dan  bertindak  menurut  cara  cara  yang  dapat diterima  lingkungan  mereka.  Mereka  juga  mulai  peduli  pada  permainan yang jujur.  
Selama  masa  ini  mereka  juga  mulai  menilai  diri  mereka  sendiri  dengan  membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggu akan  perbandingan  sosial  (social  comparison)  terutama  untuk  norma norma  sosial  dan  kesesuaian  jenis-jenis  tingkah  laku  tertentu.  Pada  saat  anak-anak  tumbuh  semakin  lanjut,  mereka  cenderung  menggunakan  perbandingan social untuk mengevaluasi dan menilai  kemampuan  kemampuan mereka sendiri.  
Sebagai  akibat  dari  perubahan  struktur  fisik  dan  kognitif  mereka,  anak  pada  kelas  besar  di  SD  berupaya  untuk  tampak  lebih  dewasa.  Mereka  ingin  diperlakukan  sebagai  orang dewasa.Terjadi  perubahan  perubahan  yang  berarti  dalam  kehidupan  sosial  dan  emosional  mereka.  Di  kelas  tinggi  SD  anak  laki-laki  dan  perempuan  menganggap  keikutsertaan  dalam  kelompok  menumbuhkan  perasaan  bahwa  dirinya  berharga.  Tidak  diterima  dalam  kelompok  dapat  membawa  pada  masalah  emosional  yang  serius  Teman-teman  mereka  menjadi  lebih  penting  daripada  sebelumnya.  Kebutuhan  untuk  diterima  oleh  teman  sebaya  sangat  tinggi.  Remaja  sering  berpakaian  serupa.  Mereka  menyatakan  kesetiakawanan  mereka  dengan  anggota  kelompok  teman  sebaya  melalui  pakaian  atau  perilaku.  
Hubungan  antara  anak  dan  guru  juga  seringkali  berubah.  Pada  saat  di  SD  kelas  rendah,  anak  dengan  mudah  menerima  dan  bergantung  kepada  guru.  Di  awal  awal  tahun  kelas  tinggi SD  hubungan  ini  menjadi  lebih  kompleks.  Ada  siswa  yang  menceritakan  informasi  pribadi  kepada  guru,  tetapi  tidak  mereka  ceritakan  kepada  orang  tua  mereka.  Beberapa  anak  pra  remaja  memilih  guru  mereka  sebagai  model. 
Sementara  itu,  ada  beberapa  anak  membantah  guru  dengan  cara  cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa  anak  mungkin  secara terbuka menentang gurunya.  

E.  Media pembelajaran komik dengan tokoh wayang untuk meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus
Penggunaan media komik dengan tokoh wayang diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa jawa, dalam bentuk lisan, percakapan   menggunakan bahasa jawa terutama krama alus . tata cara bicara kepada orang yang lebih tua, sebaya, ataupun lebih muda.
Kelebihan media komik sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus adalah komik dapat menarik semangat siswa untuk belajar dan mengajari siswa untuk menerjamahkan cerita ke dalam gambar bahkan seolah-seolah siswa dihadapkan pada konteks yang nyata sehingga muncul efek yang membekas pada siswa dan dapat mengingat sesuatu lebih lama. Dengan media ini, siswa diharapkan lebih maksimal dalam memahami suatu materi dibandingkan apabila siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan guru.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kawedanan 2  yang beralamatkan di Jl. Kasiyanto 238 Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan September 2012 sampai November  2012.
B.     Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V Semester Ganjil SDN Kawedanan 2 Magetan tahun Pelajaran 2012/2013. Subjek penelitian ini berjumlah 47 siswa.
C.    Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Clasroom Action Research atau Penelitian tindakan Kelas (PTK). Menurut Suharsini Arikunto (2007:74) bahwa PTK terdiri atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus yaitu, perencanaan (Plaining), Pelaksanaan (Acting), pengamatan (Adserting), dan refleksi (Reflecting).
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Tahap perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
a.  Melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengetahui kondisi awal dan keadaan kelas penelitian
b.      Menyusun silabus dan rencana pembelajaran.
c.       Menyusun instrument penelitian.
2.      Tahap pelaksanaan
Tahap ini merupakan penerapan dari tahap perencanaan yang sesuai dengan skenario atau rencana pembelajaran.
a.       Kegiatan awal
1.      Pendahuluan
2.      Memotivasi siswa dengan member pertanyaan
3.      Menyampaikan tujuan dari kegiatan pembelajaran
b.      Kegiatan Inti
1.        Guru mempersiapkan media komik sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.        Guru memberikan media komik kepada setiap siswa
3.        Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/ menganalisa
4.        Siswa mengerjakan soal-soal yang terdapat pada komik
5.        Mempraktekkan percakapan menggunakan bahasa jawa krama alus secara kelompok
6.        Pemberian komentar dan pelurusan pemahaman
c.       Kegiatan penutup
1.      Menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran
2.      Mengadakan evaluasi
3.      Penutupan
3. Tahap Pengamatan
Dalam tahap ini guru dan observer yang dilakukan secara kolaborasi. Guru melakukan pengamatan dan pengambilan data dari sikap siswa dan kegiatan guru dalam KBM
4.      Tahap Refleksi
Dalam hal ini observer bersama guru melakukan evaluasi pada semua tindakan selama proses pembelajaraan yaitu mengadakan kegiatan menganalisis dan menyimpulkan data yang sudah diperoleh. Hasilnya dari refleksi ini digunakan melakukan perbaikan pada siklus selanjutnya.
2. Siklus II
Pelaksanaan siklus II pada prinsipnya sama dengan siklus I, dengan beberapa perubahan berdasarkan analisis refleksi pada siklus I, dengan harapan pada siklus II akan lebih baik.
D.    Jadwal Penelitian
No
Jenis Kegiatan
Bulan
September
Oktober
November
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pengajuan Judul
x











2
Pengajuan Proposal


x
x








3
Penyusunan
Bab I



x








4
Penyusunan
Bab II




x
x






5
Penyusunan
Bab III





x
x
x





Pelaksanaan Siklus I





x







A. Perencanaan





x







B.  Tindakan





x







C.  Observasi





x







D. Refleksi





x






4
Pelaksanaan Siklus II






x






A. Perencanaan






x






B. Tindakan






x






C. Observasi






x






D. Refleksi






x





5
Penyusunan laporan penelitian









x
x
x


DAFTAR PUSTAKA

Munadi Yudhi. 2008. Media Pembelajaran .Ciputat : Gaung Persada Press
Arief S.M.Sc, dkk.2010.  Media Pendidikan. Jakarta : Rajawali Press
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Drs. Edy Siswanto.2012. Penelitian Tindakan Kelas.Madiun:IKIP PGRI Madiun








Tidak ada komentar: