PENINGKATAN
KEMAMPUAN BERBAHASA JAWA KRAMA ALUS MENGGUNAKAN MEDIA KOMIK DENGAN TOKOH WAYANG
PADA SISWA KELAS 5 SDN KAWEDANAN 2 MAGETAN
Kusnul
Pujianto
09141120
PGSD/7C
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2012
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan adalah
usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan orang-orang yang diserahi tanggung
jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat agar
sesuai dengan cita-cita pendidikan. (Achmad munib, 2004:34).
Proses belajar
mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Untuk
mewujudkan tujuan tersebut seorang guru harus mampu menguasai materi. Selain
itu dapat menerapkan metode-metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan dan
keinginan para siswanya. Sehingga tujuan yang ingin dicapai berhasil dan bisa
mengaktifkan siswa.
Hasil
wawancara peneliti dengan guru bahasa jawa kelas V SDN Kawedanan 2 ditemukan fakta bahwa siswa masih menemui
kesulitan belajar dalam berbahasa jawa krama alus. Hal ini terlihat dari hasil
tes akhir pembelajaran menunjukkan bahwa: hanya ada 10 siswa (21%) yang
kemampuan berbahasa jawa krama alusnya nilai antara (75-100); terdapat 30 siswa
(63%) mencapai nilai 50-75 dan 7 siswa (16%) memperoleh nilai dibawah 50.
Padahal nilai ketuntasan minimal SDN Kawedanan 2 adalah 75.
Dalam
pembelajaran sehari-hari, guru sudah menjelaskan tata cara berbahasa jawa krama
alus yang baik dan benar selain itu guru juga memberikan contoh-contoh dalam
percakapan sehari-hari. Akan tetapi kemampuan siswanya tetap saja belum dapat
meningkat.
Akar
penyebab rendahnya penguasaan berbahasa jawa krama alus yang baik dan benar
dikarenakan pembelajarannya masih monoton tanpa media yang inovatif. Secara
teoritik, siswa SD lebih suka mengamati gambar daripada materi yang berupa
tulisan saja.
Oleh karena itu, judul yang diambil oleh peneliti adalah “Peningkatan
Kemampuan Berbahasa Jawa Krama Alus Menggunakan Media Komik dengan Tokoh Wayang
pada Siswa Kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan”.
B.
Identifikasi
Masalah
1.
Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam proses
belajar mengajar, karena guru masih
monoton dalam mengajar, kurang menggunakan media pembelajaran yang inovatif .
2.
Kurangnya minat siswa dalam membaca buku paket bahasa jawa, sehingga hasil
belajar kurang maksimal.
3.
Tingkat penguasaan berbahasa jawa krama alus yang
baik dan benar masih kurang sehingga mempengaruhi hasil belajar
4.
Untuk peningkatan kemampuan berbahasa jawa krama alus di SDN Kawedanan 2 Magetan belum
menggunakan media pembeljaran komik.
C.
Rumusan
Masalah dan Pemecahannya
1.
Rumusan masalah
Penelitian ini
dititik beratkan pada pemecahan, masalah – masalah yang dirumuskan sebagai
berikut:
1.
Apakah media
komik dapat meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus siswa kelas 5 SDN
Kawedanan 2 Magetan?
2.
Bagaimana
penggunaan media komik dalam meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus
kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan?
2.
Pemecahan Masalah
Tindakan yang sesuai dengan pemecahan masalah :
1.
Guru mempersiapkan media komik sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.
Guru memberikan media komik kepada setiap siswa
3.
Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhatikan/ menganalisa
4.
Siswa mengerjakan soal-soal yang terdapat pada komik
5.
Mempraktekkan percakapan menggunakan bahasa jawa krama alus secara
kelompok
6.
Pemberian komentar dan pelurusan pemahaman
7.
Kesimpulan.
Indikator
Keberhasilan :
|
ASPEK
|
CARA MENGUKUR
|
|
Keaktifan siswa
mengajukan pertanyaan
|
Diamati saat
pembelajaran berlangsung, lembar pengamatan, oleh peneliti. Dihitung dari
jumlah siswa bertanya per jumlah keseluruhan siswa
|
|
Ketepatan waktu
melakukan kegiatan eksplorasi (menganalisis gambar) dan menyelesaikan soal
|
Diamati saat
pembelajaran, lembar pengamatan oleh peneliti.
|
|
Ketepatan pengucapan
dalam mempraktekkan percakapan krama alus dan kerjasama kelompok
|
Diamati pada saat
diskusi dalam kelompok dan praktek
|
|
Ketuntasan hasil belajar
|
Dihitung dari nilai
rata-rata diskusi dan tes. Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama
dengan 70 dinyatakan tuntas.
|
D.
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin
penulis capai dalam penelitian ini adalah :
1.
Mendeskripsikan penerapan media komik untuk meningkatkan kemampuan
berbahasa jawa krama alus siswa kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan
2.
Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa jawa krama alus siswa
kelas 5 SDN Kawedanan 2 Magetan
E.
Manfaat
Hasil Penelitian
Manfaat Teoritik: memberikan sumbangan pengetahuan
pada khasanah pengetahuan khususnya dalam bidang pembelajaran Bahasa Jawa di
SD,
Manfaat Praktis:
Ø
siswa : siswa akan lebih aktif dan
memahami sehingga kemampuannya berbahasa jawa krama alus meningkat.
Ø
guru: dimungkinkan dapat diterapkan
di sekolah yang mempunyai karakteristik sama
Ø
peneliti lain: dapat menjadi
inspirasi yang ingin mendalami pembelajaran bahasa jawa krama alus.
KAJIAN PUSTAKA
A. Media Komik
1.
Pengertian media
pembelajaran
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan
mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang
dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Sedangkan menurut Briggs
(1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan
isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian
menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan
bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun
pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
2.
Media
pembelajaran komik
Komik
adalah sebuah media yang menyampaikan cerita dengan visualisasi atau ilustrasi
gambar, dengan kata lain komik adalah cerita bergambar, dimana gambar berfungsi
untuk pendeskripsian cerita agar si pembaca mudah memahami cerita yang
disampaikan oleh si pengarang.
Biasanya
komik sangat digemari oleh orang-orang yang mempunyai tipe belajar visual
karena dalam komik suatu cerita disampaikan dengan dominasi gambar yang sangat
menonjol. Kadang komik bersifat menghibur sehingga kalangan penggemar komik
adalah anak-anak dan remaja.
Komik yang
sering kita temukan adalah komik-komik yang bercerita superhero, cerita kartun
dan legenda. Akan tetapi komik pun dapat dirancang dengan gagasan yang berisi
materi atau nilai-nilai yang positif yaitu berisi tentang nilai-nliai sosial,
budaya, agama dan ekonomi.
Komik
mempunyai unsur dasar visual yaitu komik dapat dipakai sebagai alat penyampai
pesan yang berisi arti dan makna sehingga terjadi komunikasi visual antara
pesan yang disampaikan oleh komik tersebut dengan si pembaca melalui daya
imajinasinya.
3.
Kelebihan
komik sebagai media pembelajaran
Metode mengajar seorang pendidik dalam
menyampaikan pesan pembelajaran sangatlah terbatas dan sangat monoton. Hanya
sebatas ceramah, tanya jawab, diskusi dan simulasi sehingga pengalaman belajar
yang didapatkan peserta didik sangat tidak variatif dan merasa belum memahami
pesan yang disampaikan oleh pendidik.
a.
Bukan hanya itu, komik pun dapat menarik semangat siswa untuk belajar dan
mengajari siswa untuk menerjamahkan cerita ke dalam gambar bahkan seolah-seolah
siswa dihadapkan pada konteks yang nyata sehingga muncul efek yang membekas
pada siswa dan dapat mengingat sesuatu lebih lama.
b.
Materi yang terdapat di dalam komik dapat dijelaskan secara
sungguh-sungguh, yang artinya bahwa materi yang berbentuk gambar dapat menjelaskan
keseluruhan cerita atau materi yang dibarengi oleh ilustrasi gambar untuk
mempermudah siswa dengan mengetahui bentuk atau contoh kongkret apa maksud dari
materi tersebut.
c.
Hutchinson (1949) menemukan bahwa 74% guru yang disurvei menganggap bahwa komik
"membantu memotivasi", sedangkan 79% mengatakan komik
"meningkatkan partisipasi individu" . Satu guru bahkan mengatakan
bahwa komik membuat pembelajaran menjadi "pembelajaran yang sangat
mudah" (Hutchinson, 1949). DC Comics, Thorndike, dan Downes juga menemukan
bahwa komik juga mampu memotivasi siswa ketika mereka memperkenalkan buku
latihan bahasa Superman ke kelasnya. Mereka menemukan bahwa siswa memiliki
“ketertarikan yang tak biasa” dan, sebagaimana ditulis’ “mampu membuat siswa
menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan dalam satu minggu menjadi satu
hari saja” (Sones, 1944).
d.
Sones’ (1944) yang berkesimpulan bahwa kualitas gambar komik dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran: Sones membagi empat ratus siswa kelas enam
sampai kelas Sembilan kedalam dua kelompok. Masing – masing kelompok seimbang
dalam pembagian kelas dan kecakapannya. Kelompok pertama disuguhi pembelajaran
cerita dengan menggunakan komik dan yang kedua hanya menggunakan teks saja.
Setelah itu, mereka dites untuk mengetahui isi dari pembelajaran cerita itu.
Setelah seminggu, prosesnya diubah, kelompok pertama disuguhi teks saja sedang
yang kedua diberikan komik. Kemudian kedua grup dites lagi.
e.
Akhirnya, Sones (1944) berkesimpulan bahwa "pengaruh gambar terlihat
dalam hasil tes". Tes pertama menunujukkan bahwa kelompok pertama
mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok kedua. Di tes kedua
kelompok kedua mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok
pertama.
f.
Kelebihan komik masih banyak lagi antara lain Anda
tentu tahu poster alfabet yang dilengkapi dengan gambar-gambar. Itu merupakan
salah satu contoh pemanfaatan gambar untuk memperkenalkan suatu konsep
tertentu, dalam hal ini alfabet. Masih ingat komik Doraemon? Karakter karya
Fujiko F. Fujio ini termasuk paling dicintai anak-anak. Beberapa tahun yang
lalu, komik Doraemon edisi belajar berhitung juga diterbitkan. Komik-komik
seperti ini tentu sangat bermanfaat dan menolong karena menghadirkan nuansa
belajar yang menyenangkan bersama tokoh kesayangan.
g.
Komik yang memperkenalkan lingkungan dan alam sekitar juga sangat
bermanfaat bagi anak-anak. Anda tidak mungkin membawa anak-anak ke masa
dinosaurus untuk memperkenalkan mereka kepada Tyranosaurus, misalnya. Anak-anak
pun bisa diperkenalkan pada berbagai jenis tumbuhan dan hewan melalui komik.
Komik pun dapat di gunakan sebagai sarana memperkenalkan firman Tuhan, Dulu ada
enam seri komik Alkitab Bergambar untuk Semua Umur, terbitan Yayasan Komunikasi
Bina Kasih/OMF. Buah karya Iva Hoth dan Andre Le Blanc ini merupakan salah satu
komik yang bermanfaat untuk memperkenalkan isi Alkitab dan tokoh-tokohnya
kepada anak-anak.
h.
Komik juga membantu untuk membangkitkan minat baca anak-anak. Jaya Suprana
(dalam Sofwan 2007) mengaku kalau minat bacanya tumbuh akibat membaca komik
Mahabharata semasa kecilnya.Sejumlah komik menghadirkan nilai-nilai moral yang
penting dikenal oleh siapa saja. Sebut saja nilai persahabatan, kerja keras,
kebersamaan, kegigihan dan semangat pantang menyerah. Perhatikanlah komik-komik
Jepang -- saya sengaja mengangkat komik Jepang karena komik inilah yang saat
ini merajai pasar -- banyak mengangkat nilai-nilai tersebut.
i.
Komik olah raga umumnya mengajarkan nilai kerja keras, kegigihan, dan
semangat pantang menyerah. Pesan umum yang disampaikan biasanya "semakin
gigih kamu berusaha, semakin dekat pula dirimu pada keberhasilan". Prinsip
alkitabiah seperti "kasihilah musuhmu" juga bisa ditemukan.
Nilai-nilai ini bisa dilihat dari komik, seperti "Shoot!",
"Kungfu Boy", "Harlem Beat", dan lain-lain.
B. Pembelajaran Bahasa Jawa
Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah
yang berfungsi sebagai lambang kebanggan daerah, lambang identitas daerah dan
alat perhubungan keluarga dan masyarakat daerah. Pembelajaran bahasa jawa di
sekolah dasar merupakan sarana pelestarian bahasa jawa.
Fungsi Bahasa Jawa yang hakiki adalah alat
perhubungan keluarga dan masyarakat daerah, sehingga Bahasa Jawa dominan digunakan dalam wujud
bahasa lisan. Dari kenyataan ini, tujuan pembelajaran Bahasa Jawa di SD
diusulkan mengutamakan keterampilan berbicara.
Bentuk
Krama
Dengan
pengutamaan keterampilan berbicara, pembelajaran bahasa jawa harus mampu
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam berbhasa jawa, baik itu
dalam bentuk bahasa ngoko ataupun bentuk krama.
Bentuk
krama digunakan untuk menghormati, “mengajeni” mitra bicara. Secara verbal rasa
hormat itu diekspresikan dengan bahasa yang halus, bentuk krama. Bagi orang
Jawa, hal itu merupakan tradisi. Tidak bisa pembelajaran Bahasa Jawa diajarkan
tanapa disertai bentuk krama.
Kehalusan
budi bahasa merupakan nilai yang dijunjung tinggi orang Jawa, Orang Jawa tempat
pertimbunan kekayaan yang berupa perasaan halus. Kata-kata pada tingkat tutur
krama bukan sekadar paduan bentuk dan makna, tetapi juga terkandung rasa hormat
pada mitra bicara. Bentuk krama dapat digunakan sebagai alat memperhalus budi
pekerti siswa. Inilah pentingnya bentuk krama dalam pembelajaran Bahasa Jawa
bagi siswa SD.
Pembelajaran
bahasa jawa di sekolah dasar bertujuan untuk dapat menghasilkan siswa yang
mampu berbicara dalam Bahasa Jawa ngoko dan krama dengan baik.
C. Standar Isi berbicara krama alus
Standar Isi berbicara krama alus harus dikuasai dan di capai peserta didik
dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan. Berisi tata cara berkomunikasi
secara lisan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa harus mampu menguasai tata cara
berbicara kepada orang yang lebih tua, lebih muda dan teman sebaya.
Dalam kompetensi ini, materi yang perlu dikuasai guru adalah sebagai
berikut:
a.
Bahasa
jawa ngoko
b.
Bahasa
jawa krama alus
D. Karakteristik siswa kelas V SD
1) Minat
terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2) Amat
realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3) Menjelang
akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai
mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4) Sampai usia
11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan
tugas dan memenuhi keinginannya.
5) Selepas usia
ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk
menyelesaikannya.
6) Pada masa ini
anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi
sekolahnya.
7) Gemar
membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka
tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka
membuat peraturan sendiri.
Selain itu siswa kelas V SD juga memiliki
karakteristik:
Karakteristik
sosial-emosional
1)
Tidak stabil
2)
Mulai timbul rasa takjub
3)
Perempuan menaruh minat pada laki-laki
4)
Anak dewasa dapat mempengaruhi
5)
Biasa berontak
6)
Berapresiasi terhadap penghargaan
7)
Bersifat kritis
8)
Laki-laki tidak begitu memperhatikan anak perempuan
9)
Perasaan bangga berkembang
10)
Ingin penghargaan dari kelompoknya
11)
Mudah memperoleh teman
12)
Suka bergabung dalam jenis kelamin yang sejenis
Perkembangan anak usia sekolah
dasar kelas V
1. Perkembangan Fisik
Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang.
Pada anak usia kelas 5 SD baik laki-laki maupun perempuan tinggi dan berat
badannya
bertambah kurang lebih 3,5 kg.
Pada akhir kelas lima, umumnya
anak perempuan lebih tinggi, lebih berat
dan lebih kuat daripada anak laki-laki.
Anak laki-laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun.
2. Perkembangan Kognitif
Hal tersebut mencakup perubahan –
perubahan dalam perkembangan pola
pikir. Tahap perkembangan kognitif individu
menurut Piaget melalui empat stadium:
a. Sensorimotorik (0-2 tahun), bayi
lahir dengan sejumlah refleks
bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.
b.Pra-operasional (2-7 tahun), anak belajar menggunakan
dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan
kata-kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis tetapi
tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan
lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis
c. Operational Kongkrit (7-11), penggunaan
logika yang
memadai. Tahap ini
telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
d. Operasional Formal (12-15 tahun).
kemampuan untuk berpikir secara
abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia
2. Perkembangan Psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan
perkembangan dan perubahan emosi
individu. J. Havighurst
mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus
sejalan dengan perkembangan aspek lain
seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial.
Daya konsentrasi anak tumbuh pada
kelas kelas tinggi SD. Mereka dapat
meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas
tugas pilihan mereka, dan sering kali
mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya
tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok
dan bertindak menurut cara cara
yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga
mulai peduli pada permainan yang jujur.
Selama masa ini mereka juga
mulai menilai diri mereka sendiri dengan
membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggu
akan perbandingan sosial (social
comparison) terutama untuk norma norma sosial
dan kesesuaian jenis-jenis
tingkah laku tertentu. Pada saat anak-anak
tumbuh semakin lanjut,
mereka cenderung menggunakan perbandingan social untuk
mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan
mereka sendiri.
Sebagai akibat dari perubahan
struktur fisik dan kognitif mereka, anak
pada kelas
besar di SD berupaya untuk tampak
lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi
perubahan perubahan yang berarti dalam
kehidupan sosial dan
emosional mereka. Di kelas tinggi SD
anak laki-laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam
kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima
dalam kelompok dapat membawa pada masalah
emosional yang serius
Teman-teman mereka menjadi lebih penting
daripada sebelumnya.
Kebutuhan untuk diterima
oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja
sering berpakaian serupa.
Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan
anggota kelompok teman sebaya
melalui pakaian atau perilaku.
Hubungan antara anak dan guru
juga seringkali berubah. Pada saat di
SD kelas rendah, anak dengan mudah
menerima dan bergantung kepada guru. Di
awal awal tahun kelas tinggi SD hubungan
ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa
yang menceritakan informasi pribadi kepada
guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada
orang tua mereka. Beberapa anak pra
remaja memilih guru mereka sebagai model.
Sementara itu, ada beberapa anak
membantah guru dengan cara cara yang tidak
mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya.
Malahan, beberapa anak mungkin secara terbuka menentang gurunya.
E. Media pembelajaran komik dengan tokoh wayang untuk meningkatkan kemampuan
berbahasa jawa krama alus
Penggunaan media komik dengan tokoh wayang
diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa jawa, dalam bentuk lisan, percakapan
menggunakan bahasa jawa terutama krama
alus . tata cara bicara
kepada orang yang lebih tua, sebaya, ataupun lebih muda.
Kelebihan media komik sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa jawa krama alus
adalah komik dapat menarik semangat siswa
untuk belajar dan mengajari siswa untuk menerjamahkan cerita ke dalam gambar
bahkan seolah-seolah siswa dihadapkan pada konteks yang nyata sehingga muncul
efek yang membekas pada siswa dan dapat mengingat sesuatu lebih lama.
Dengan media ini, siswa
diharapkan lebih maksimal dalam memahami suatu materi dibandingkan apabila
siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan guru.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kawedanan 2 yang beralamatkan di Jl. Kasiyanto 238 Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan September 2012 sampai November 2012.
B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V Semester Ganjil SDN Kawedanan 2 Magetan tahun Pelajaran 2012/2013. Subjek penelitian ini berjumlah 47 siswa.
C. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Clasroom Action Research atau Penelitian
tindakan Kelas (PTK). Menurut Suharsini Arikunto (2007:74) bahwa PTK terdiri
atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat
kegiatan utama yang ada pada setiap siklus yaitu, perencanaan (Plaining), Pelaksanaan (Acting), pengamatan (Adserting), dan refleksi (Reflecting).
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.
Tahap perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
a. Melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengetahui
kondisi awal dan keadaan kelas penelitian
b.
Menyusun silabus dan rencana pembelajaran.
c.
Menyusun instrument penelitian.
2.
Tahap pelaksanaan
Tahap ini merupakan penerapan dari tahap perencanaan yang sesuai dengan
skenario atau rencana pembelajaran.
a.
Kegiatan awal
1.
Pendahuluan
2.
Memotivasi siswa dengan member pertanyaan
3.
Menyampaikan tujuan dari kegiatan pembelajaran
b.
Kegiatan Inti
1.
Guru
mempersiapkan media komik sesuai dengan tujuan pembelajaran
2.
Guru memberikan
media komik kepada setiap siswa
3.
Guru memberi
petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/ menganalisa
4.
Siswa
mengerjakan soal-soal yang terdapat pada komik
5.
Mempraktekkan
percakapan menggunakan bahasa jawa krama alus secara kelompok
6.
Pemberian
komentar dan pelurusan pemahaman
c.
Kegiatan penutup
1.
Menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran
2.
Mengadakan evaluasi
3.
Penutupan
3. Tahap Pengamatan
Dalam tahap ini guru dan observer yang dilakukan secara kolaborasi. Guru
melakukan pengamatan dan pengambilan data dari sikap siswa dan kegiatan guru
dalam KBM
4.
Tahap Refleksi
Dalam hal ini observer bersama guru melakukan evaluasi pada semua
tindakan selama proses pembelajaraan yaitu mengadakan kegiatan menganalisis dan
menyimpulkan data yang sudah diperoleh. Hasilnya dari refleksi ini digunakan
melakukan perbaikan pada siklus selanjutnya.
2. Siklus II
Pelaksanaan siklus II pada prinsipnya sama dengan
siklus I, dengan beberapa perubahan berdasarkan analisis refleksi pada siklus
I, dengan harapan pada siklus II akan lebih baik.
D. Jadwal Penelitian
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Bulan
|
|||||||||||
|
September
|
Oktober
|
November
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Pengajuan Judul
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pengajuan Proposal
|
|
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Penyusunan
Bab I
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyusunan
Bab II
|
|
|
|
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Penyusunan
Bab III
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
|
|
|
|
|
|
Pelaksanaan Siklus I
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
A. Perencanaan
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Tindakan
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C. Observasi
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
|
D. Refleksi
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pelaksanaan Siklus II
|
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
A. Perencanaan
|
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Tindakan
|
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
C. Observasi
|
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
|
D. Refleksi
|
|
|
|
|
|
|
x
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Penyusunan laporan penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
x
|
x
|
x
|
DAFTAR PUSTAKA
Munadi Yudhi. 2008. Media Pembelajaran .Ciputat : Gaung
Persada Press
Arief S.M.Sc, dkk.2010.
Media Pendidikan. Jakarta : Rajawali Press
Arikunto, S. 2002. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Drs. Edy Siswanto.2012. Penelitian
Tindakan Kelas.Madiun:IKIP PGRI Madiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar